BAB 9 Prasangka, Diskriminasi, dan Ethosentrisme

· ISD
Authors

Nama : Sisca Ellia

NPM  : 16111783

Kelas : 1KA32 

1.     Jelaskan tentang prasangka !

Jawab :

Prasangka sosial merupakan prasangka orang-orang terhadap golongan manusia tertentu, golongan rasa tahu kebudayaan berlainan dengan golongan orang yang berprasangka itu. Adanya prasangka sosial itu dapat ditunjukkan pada bermacam-macam pada masyarakat merdeka di dunia.

Studi Kasus

                             Prasangka Buruk Ciptaan Media Massa

11 Februari 2011, media massa ramai memberitakan siapa perekam video penyerangan dan kekerasan yang dialami jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten. Arif, sang perekam video, langsung dimintai keterangan sebagai saksi kunci oleh Mabes Polri.

Tak hanya itu. Media massa lokal, nasional, hingga internasional, menelusuri penyebar video sadis itu. Semua merujuk ke satu akun milik Andreas Harsono. Wartawan sekaligus aktivis Human Right Watch ini, jadi orang pertama yang mengunggah video itu ke situs web video sharing You Tube.

Karena bisa media massa, dan pemberitaan yang serba tanggung, Andreas mendapat banyak cibiran dari masyarakat. Saya temukan dua tulisan yang mempermasalahkan peran Andreas sebagai pengunggah video, lalu mengatakan peristiwa Cikeusik merupakan skenario pihak asing. Bahkan ada yang mengatakan, peristiwa Cikeusik masih satu rencana dengan kerusuhan Temanggung, Jawa Tengah, yang terjadi dua hari kemudian, 8 Februari 2011.

Mengandalkan kutipan berita dari media massa, tanpa konfirmasi dan verifikasi pihak terkait, orang-orang ini menarik kesimpulan. Andreas dikaitkan dengan konspirasi peristiwa Cikeusik. Mentang-mentang dia pengunggah pertama.

Apa yang salah dengan media massa? Sehingga wacana ini tercipta?

Sore hari, saya kirim pesan singkat ke Andreas Harsono. Menanyakan kronologi peristiwa, ancaman yang ia dapat, sampai kengawuran media menginterpretasikan pernyataan Andreas. Beberapa menit kemudian, kami lanjutkan pembicaraan via telepon.

Andreas mengatakan, seorang jemaah Ahmadiyah mengirim video itu ke Human Right Watch, organisasi yang concern terhadap isu Hak Asasi Manusia (HAM), tempat Andreas bekerja. “Mereka mencari lembaga yang kredibel.”

“Aku dimintai tolong oleh Ahmadiyah. Mereka kecewa dengan Metro TV, karena Metro TV tidak proporsional. Mereka pakai istilah “bentrokan”.”

Istilah “bentrokan” yang digunakan Metro TV, tidak tepat untuk menggambarkan situasi saat itu. Dalam KBBI Edisi Ketiga (2005), kata bentrok punya arti: bercekcok, berselisih, berlawanan, bertentangan, berlanggaran, bertumbukan. Apakah istilah “bentrokan” bisa menggambarkan secara holistik 3 jamaah Ahmadiyah yang tewas dipukuli kelompok Islam fanatik ?

Jika video ini tak disebarkan, mungkin masyarakat tak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ada tiga jamaah Ahmadiyah yang tewas. Namun yang tampak di video hanya dua. Sambil meneriakkan takbir, massa memukuli dua jamaah Ahmadiyah itu dengan benda tumpul dan melemparinya dengan batu, berkali-kali. Terbujur lemas di tanah, satu korban dalam keadaan tengkurap, dan satu lagi meringkuk miring. Keduanya tak lagi mengenakan celana. Tubuh berlumur darah. Dan akhirnya, mereka tewas.

Selain dicibir banyak orang, Andreas juga menerima ancaman pembunuhan yang masuk ke akun You Tube-nya. Tapi ia santai saja menanggapi ancaman itu. Ia juga telah menyiapkan pengacara jika kasus ini berlanjut.

Andreas hanya ingin masyarakat tahu, kekerasan macam apa yang dialami jamaah Ahmadiyah ?

Saya cukup mengenal Andreas. Pria kelahiran Jember, Jawa Timur, pada 1965 ini, sensitif terhadap isu HAM. Andreas pernah cerita pada saya, hak asasinya sewaktu kecil dirampas oleh rezim Orde Baru. Ia keturunan Tionghoa. Nama, agama, dan bahasa sehari-harinya dulu identik dengan budaya Tionghoa. Ia terpaksa mengganti nama dan melepas sebagian adat-budaya itu karena diskriminasi masyarakat terhadap orang Tionghoa.

“Orang yang ditindas itu cuma punya dua pilihan. Terus ditindas atau melawan. Dan saya pilih melawan,” tukas Andreas.

Atas dasar latar belakang, Andreas melawan ketidakadilan HAM. Ia mengikuti isu HAM di Papua, Aceh, Maluku, Timor Leste, hingga jamaah Ahmadiyah. Ia berempati kepada orang yang mengalami diskriminasi, atau penindasan.

Sebagai seorang wartawan, ia pun melayani permintaan wawancara dari banyak media yang sedang meliput peristiwa ini. Detik.com, Bisnis Indonesia, KBR 68H, Radio Trijaya, CNN, BBC, Al Jazeera, APTN, hingga Respekt. Namun, ia tak mau diwawancara salah satu televisi swasta yang menganggap medianya selalu terdepan mengabarkan.

“Aku memang ga mau diwawancara TV One. Aku tidak setuju dengan kebijakan redaksinya. Karena tidak mengedepankan verifikasi. Buat aku, esensi jurnalisme adalah verifikasi.”

Cara berpikir Andreas tentang jurnalisme, sangat dipengaruhi oleh pemikiran Bill Kovach, guru saat Andreas dapat Nieman Fellowship on Journalism di Harvard University, Amerika Serikat.

“Dalam membuat diskusi, TV One tidak melakukan fungsi forum publik. Orang diadu. Mereka tidak peduli dengan demokrasi. Jadi hanya cari sensasi.”

Terlepas dari pro-kontra Ahmadiyah, saya fokus memandang media yang seharusnya jadi alat kontrol sosial. Bukan sebagai agen penyebar prasangka. Hanya karena faktualitas, keberimbangan dan keutuhan fakta diabaikan.

Belum dapat data lengkap, tapi terus saja mengomentari atau mewartakan. Hasilnya, hanya omong-kosong. Pengulangan saja. Sebuah analisa bisa didapat dari kedalaman fakta. Spekulasi hanya akan menyebar prasangka buruk dalam masyarakat.

OPINI:

Andreas Harsono merupakan seorang  wartawan sekaligus aktivis Human Right Watch yang memberitakan masalah  jemaah Ahmadiyah di Cikeusik dengan cara mengupload video yang ia dapatkan dari seseorang. ia hanya mengerjakan tugasnya saja sebagai wartawan untuk memberitakan suatu kejadian, tapi malahan dia dituduh oleh masyarakat dan media massa lainnya tanpa konfirmasi dari Anreas Harsono sendiri dan menganggap dia berkaitan dengan konspirasi peristiwa Cikeusik. Dia dicibir oleh masyarakat, seharusnya masyarakat harus meminta konfirmasi dari Andreas sendiri supaya tahu faktanya dan jangan menjelekkan seseorang kalau belum tahu yang sebenarnya. Dari kasus diatas, Pasangka burut terhadap orang lain dapat menjelekkan martabat seseorang di depan publik.

Sumber :

http://adityapanjirahmanto.blogspot.com/2011/02/prasangka-buruk-ciptaan-media-massa.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: