RUSAKNYA TANAH KAMI

· Uncategorized

Kawasan hutan di Sulawesi Tenggara mencapai 68,17 persen dari luas provinsi tersebut. Kawasan hutan itu terdiri dari hutan konservasi, lindung, dan kawasan hutan produksi. Di kawasan konservasi tersebut terdapat cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman wisata alam, taman hutan raya, dan taman buru. Hutan konservasi ini berfungsi sebagai pemeliharaan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya sehingga semuanya tumbuh subur dan pemandangan yang sangat indah. Namun sebagian wilayah Sultra yang semula mempunyai bukit-bukit hijau menjulang kini semuanya sudah berubah menjadi kawah dan ceruk hasil lengan-lengan baja ekskavator. Begitu juga dengan hutan, hutan yang dulunya rindang pun berubah menjadi gersang. Hal ini diakibatkan maraknya aktivitas pertambangan baik nikel maupun emas yang menimbulkan luka bagi masyarakat sekitar Sulawesi Tenggara, khususnya masyarakat lokal. Bukan hanya itu saja tapi berdampak bagi lingkungan sehingga terjadinya kerusakan lingkungan. Salah satunya kawasan perbukitan di pesisir Kecamatan Kolonodale, Kabupaten Morowali, Selawesi Tenggara, terkupas oleh kegiatan penambangan hingga ke bibir pantai pada awal Mei 2012. Penambangan tersebut mengangkut material yang mengandung nikel dan bahan tambang lainnya di sejumlah titik pesisir sehingga terjadi kerusakan lingkungan pantai akibat sedimentasi buangan sisa galian yang mengalir ke laut.

Kerusakan lingkungan juga terjadi di sejumlah lahan di Kalimatan Timur akibat tambang batubara. Bukit-bukit hijau dikeruk batubaranya lalu menyisakan hasil berupa kolam limbah dan bukit gundul berwarna kecokelatan yang rentan longsor. Resapan air pun menghilang karena limbah tambang mengalir ke sungai-sungai sehingga sawah sekitar sungai tersebut tidak bisa lagi ditanami padi.
Menyikapi kerusakan lingkungan seperti itu, maka pemerintah Indonesia bersama negara-negara lain yaitu Malaysia dan Brunei melakukan suatu proyek penyelamatan jantung kehidupan Pulau Kalimantan yang bernama “Heart of Borneo”. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menjaga kelestarian dan konservasi alam di Pulau Kalimantan, khususnya Pulau Borneo. Sebab jika kawasan tersebut rusak, maka seluruh spesies termasuk manusia yang ada di pulau itu pun terancam.

Sumber : Koran Kompas, 1 Juli 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: